Adzan Membuat Kagum Seorang Mualaf
Sebatas ilmu yang aku miliki , di agama sebelumnya tidak ada panggilan khusus bagi umatnya untuk beribadah. Kapan saja kita ingin beribadah , silakan. Yang aku ketahui biasanya pada hari Minggu pagi-lah mereka rutin melakukan khutbah di vihara-vihara tertentu , karena tidak semua tempat mengadakan kebaktian berdasarkan aliran apa yang mereka anut (cmiiw).
Awal mula saat aku mengenal Islam , ada satu hal yang mengesankan. Satu hal yang tidak sanggup aku ekspresikan tapi di dalam hati merasa terkagum-kagum. Yaitu , adzan. Ya , seruan atau panggilan untuk umatnya bersiap-siap melaksanakan kewajiban sholat. Bukan karena lantunan muazin-nya atau lafalan-nya , tapi karena waktunya. Maksudnya gimana?
Tahukah kalian bahwa adzan itu tidak berhenti sedetikpun dilantunkan di seluruh dunia? Ya,tidak sedetikpun berhenti. Dengan adanya perbedaan waktu di setiap masing-masing wilayah entah itu kota,maupun negara , setiap detiknya pada tempat yang berbeda-beda akan terus berkumandang mengingatkan umatnya untuk melaksanakan kewajibannya , untuk mengingat Allah , mengingatkan kita untuk curhat , bercerita , bersyukur , memohon ampun , dan lainnya.
Bukankah itu luar biasa? Mungkin bagi umat yang sudah dari kecil belajar Islam akan merasa hal itu biasa saja , tapi bagiku itu sangat spesial. Satu dunia melaksanakan kewajibannya ke arah yang satu , dengan cara yang serupa(sesuai mazhab) dengan lafalan yang sama , dengan gaya yang sama , dan dimulai dengan 'Allahuakbar' .
Tidak ada perbedaan yang signifikan ketika menjalankan sholat mau kita ada di Indonesia hingga di Kutub Utara sekalipun. Mengambil wudhu , memakai pakaian yang rapi dan tertutup , melakukan takbir , semuanya sama. Entah itu keturunan chinese , arab , india , dayak , kulit putih , kulit hitam , kulit merah , tidak ada perbedaan signifikan dalam melaksanakan kewajibannya.
Hanya waktu dan tempat yang membedakan umatnya diseluruh dunia ini untuk beribadah.

0 Comments